|
Dalam kehidupan ini suka duka silih berganti. Allah akan menguji setiap manusia dengan kesenangan dan kesedihan. Dari ujian itu akan memperlihatkan kualitas keimanan seseorang. Dalam Surat Al-Baqarah 154 Allah SWT mengisyaratkan: "Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar." Jika seseorang ditimpa sebuah ketakutan misalnya sangat takut ketika mendapatkan nilai jelek pada saat ujian, atau pun takut jatuh miskin ketika banyak beramal, takut terjadi bencana maka bila tidak memiliki iman yang kuat akan mebuat guncang hatinya, saraf-saraf tegang, pikiran tidak bisa fokus. Rasa khawatir senantiansa menyelimuti jiwanya.
Berbeda dengan orang mukmin yang ditimpa ketakuatan maka akan meneguhkan jiwanya agar tegar menghadapi segala cobaan sehingga akan membawa suasana tentram dan bahagia dalam dirinya. Gambaran lain jika seseorang diuji dengan kelaparan atau kekurangan harta maka kita akan dapati perbedaan antara orang yang memiliki iman dengan orang yang tidak beriman. Islam sudah menganjurkan untuk memiliki sikap qonaah (merasa cukup atas segala limpahan nikmat dari Allah SWT). Seorang mukmin yang diuji dengan kefakiran atau keterbatasan materi, maka dengan iman yang kuat dan jiwa qonaah akan ridha atas segala limpahan rizki yang Allah berikan. Dan tetap berikhtiar untuk mencari rizki tersebut. Selain kesusahan pada hakikatnya kesenangan pun adalah sebuah ujian. Ketika seseorang mempunyai harta yang berkecukupan jika membuatnya sombong akan tergelincir juga pada lembah penderitaan. Hidupnya senantiasa sengsara karena merasa tidak puas dan ingin mendapat harta yang lebih banyak. Jiwanya rakus dengan materi, dan senantiasa diliputi rasa takut jikalau hartanya hilang. Hidup menjadi tidak nyaman, ibadah menjadi tidak khusyu karena senantiasa dibayangi oleh rasa takut. Berbeda ketika seorang yang beirman mempunyai banyak harta maka dengan harta tersebut menjadi ladang untuk beramal. Memperbanyak sedekah, menolong orang yang susah, tidak merasa takut karena yakin bahwa rizki yang didapat atau harta yang dipunyai hanya milik Allah SWT semata. Dan merasa bahwa harta tersebut hanya titipan Allah semata. Begitu pun dengan jabatan atau kekuasaan yang diemban. Jika tidak mensikapinya berlandaskan keimanan maka akan membawa penderitaan. Rasa takut dan khawatir bahwa jabatan nya akan digeser oleh orang lain, sehingga menghalalkan segala cara agar posisinya tetap. Ataupun sikap ketika menginginkan jabatan, dengan segala cara untuk mendapatkannya. Berbeda ketika seseorang yang mempunyai keimanan yang kuat, jabatan akan disikapi sebuah amanah yang akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak. Oleh karena itu jelas sekali, orang-orang yang beriman kepada Allah dengan iman yang benar akan membuakan amal sholeh yang mampu menjaga dirinya. Orang beriman mempunyai pirnsip-prinsip dalam menyambut datangnya kesenangan dan kegembiraan ataupun kegelisahan, kegundahan, dan kesedihan. Dalam sebuah hadist shahih, Rasulullah SAW mengisyaratkan bahwa: "Sungguh mengagumkan perihal mukmin, semua hal yang dialaminya adalah baik. Jika ia mendapat hal yang menyenangkan, ia bersyukur. Maka hal itu menjadi suatu kebaikan baginya. Jika ia tertimpa hal yang menyakitkan, ia bersyabar. Maka hal itu menjadi suatu kebaikan baginya. Sifat itu tidak dimiliki siapapun kecuali oleh seorang mukmin." (HR. Muslim) Dari hadist diatas diterangkan bahwa nilai kebaikan seorang mukmin berlipat ganda baik pada saat mengalami kesenangan ataupun saat mengalami cobaan. Serinhg kita jumpai ada dua orang yang bersama-sama mengalami ujian, tapi berbeda cara mensikapinya sesuai dengan kadar keimanan. Untuk itu segala ujian apapun kita harus sikapi dengan baik, berlandaskan iman yang ada dalam diri kita. Bahwa semuanya itu Allah berikan untuk kebaikan kita semua. Boleh jadi menurut kita tidak baik, tapi Allah Maha Mengetahui apa yang akan terjadi dikemudian hari dan pasti hal itu terbaik buat kita semua. Sabar dan syukur menjadi kunci orang yang beiman dalam mensikapi segala kesenangan dan kesusahan sehingga akan melahirkan ketentraman hati dan kebahagiaan hidup.
|