|
Semoga dengan cerita ini nantinya dapat dipetik sebuah pelajaran bagi para pembaca sekalian. Cerita ini bukanlah karangan penulis sendiri malainkan bersumber dari pengakuan orangnya secara langsung. Tidak ada maksud dari penulis untuk membuka aib seseorang, maka dari itu dalam cerita ini tidak akan menggunakan nama yang sebenarnya. Selamat membaca, semoga bermanfaat… Roni tinggal bersama kedua orang tuanya. Dia punya kakak perempuan, Rani dan Dani adik laki-lakinya. Waktu itu Roni sudah lulus dari SMA, dan kerja di rumah pamannya yang tidak jauh dari rumahnya. Kebetulan rumah Roni berdekatan dengan rumah saya, jadi kami sering berinteraksi dengan keluarganya.
Biasa kalau malam minggu ia sering nongkrong sama temen-temennya, mulai sekitar jam sembilan sampai larut malam. Tempat nongkrong itu bersebelahan dengan rumah saya. Jadi kalau keluarga saya jam segitu mulai tidur, anak-anak nongkrong mulai ‘konser musik’ dengan diiringi genjrang-genjreng suara gitar. Tak ketinggalan juga rokok di tangan mereka. Dalam hati, saya berkata:”ah itung-itung sebagai musik pengantar tidur…”. Tapi walaupun demikian mereka sering sholat berjamah di masjid. Jika adzan shubuh sudah berkumandang mereka semua bubar dan menuju ke masjid. Roni termasuk orang yang sudah kecanduan dengan rokok. Dalam satu hari saja dia menghabiskan dua bungkus rokok A-Mild. Kalo disuruh memilih rokok atau makan, dia lebih memilih rokok. Pernah suatu hari, waktu kerja dia marah kepada pamannya gara-gara jatah rokoknya hanya satu bungkus. Akhirnya dia pulang dan tidak mau kerja. Selain itu waktu SMA dia terkenal spring membuat masalah dan sering terlibat tawuran dengan anak-anak SMA lain. Sifat dia keras dan tidak mau mengalah meskipun dengan orang tuanya sekalipun. Memasuki bulan Ramadhan warga sekampung menyambutnya dengan gembira. Para pemuda dikerahkan untuk membersihkan masjid dan lingkungan sekitar masjid. Tidak ketinggalan juga Roni dan temen-temen nongkrongnya. Sedangkan para pemudi membersihkan madrasah yang akan digunakan untuk sholat tarawih. Memang di desa kami ada pembagian dalam pelaksanaan sholat tarawih. Untuk masjid biasa digunakan untuk jama’ah bapak-bapak dan ibu-ibu, untuk para pemuda dan anak laki-laki di TK Aisyiah sedangkan untuk para pemudi dan anak perempuan di Madrasah (biasa digunakan untuk belajar agama waktu sore). Sedangkan sholat shubuh semua di masjid. Singkat cerita, hampir memasuki 10 hari yang terakhir biasa ada pengumuman pendaftaran peserta yang mau ikut program I’tikaf di masjid. Dan yang paling mengherankan adalah dalam daftar peserta tersebut terdapat nama Roni. Para pemuda di kampung banyak yang menyangsikan perubahan yang terjadi pada Roni. Banyak yang mengatakan palin-paling bertahan sampai ramadhan selesai. Temen-temen nongkrongnya juga terheran-heran dan rasanya tidak percaya kalau Roni ikut I’tikaf. Sewaktu I’tikaf Roni masih gondrong. Diapun sempat sangsi juga pada dirinya sendiri karena selama I’tikaf tidak boleh merokok, tapi dalam hati dia ingin menunjukkan kalau dia memang mau berubah. Menurutnya selama I’tikaf nafsu yang mendorongnya untuk merokok hilang sama sekali. Rasanya tidak percaya jika mengingat sebelumnya dia pasti marah-marah kalau sehari tidak menghabiskan dua bungkus rokok. Temennya satu I’tikaf juga heran, meskipun sewaktu I’tikaf bisa menahan tapi setelah ramadhan selesai dia belum bisa meninggalkan kebiasaan merokoknya. Dalam keadaan normal seorang yang sudah ketagihan rokok dan ingin berhenti merokok tidak akan bisa memutus secara langsung tanpa adanya proses yang bertahap. Roni serasa lahir kembali. Dimulai dari sudah tidak merokok. Kebiasaan nongkrong setiap malam minggupun diganti dengan mendatangi kajian setiap malam minggu dan minggu pagi. Serta dia juga yang mengumandangkan adzan untuk sholat malam dan untuk sholat shubuh. Setelah itu waktunya sering dihabiskan di masjid, membaca buku tentang keislaman dan berdiskusi dengan para aktivis masjid. Roni tidak ingin selamanya menjadi beban bagi orang tuanya. Dia mulai merintis usaha cetak sablon. Mulai dari sablon kaos, baju, topi, dll. Hari demi hari pesananpun bak air sungai di musim hujan mengalir dengan deras. Mau tidak mau dia harus mencari pegawai baru untuk membantu usahanya tersebut. Dia merekrut Dani adiknya sendiri dan satu orang tetangganya. Ternyata perubahan tidak hanya dialami Roni, temen-temennya pun mengikuti jejaknya. Yang semula mereka pengangguran, sejak saat itu mereka mulai mencari kerja. Ada yang merantau ke Jakarta, ada yang berdagang pakaian, ada yang kerja di pabrik roti, dll. Buah dari hasil usaha Roni bisa mencukupi kebutuhan keluarganya, beli sepada motor baru untuk memperlancar usahanya dan juga membangun rumah yang disiapkan untuk istri dan anaknya kelak. Air mata ibunya mengalir ketika bercerita di rumah saya tentang perubahan yang terjadi Roni. Air mata yang mengalir tersebut merupakan air mata kebahagiaan dan syukur kepada Allah swt. Beberapa tahun kemudian tetangga saya menawarkan kepada Roni untuk melepas massa lajangnya. Roni menerima tawaran tersebut. Selang beberapa hari dia ditemani tetangga saya dan seorang ustadz melakukan khitbah dengan seorang akhwat. Kebahagiaan Roni bertambah ketika dia dikaruniai seorang anak laki-laki. “Tak seorang pun yang dapat memberikan petunjuk kepada orang yang telah disesatkan Allah swt, dan tak seorang pun yang dapat menyesatkan orang yang sudah diberikan petunjuk Allah swt”
|